School teachers visit Jakarta gurdwara

3
1264
| Jakarta, Indonesia | 10 Aug 2015 | Asia Samachar |
Teachers from Christian and Muslim schools visit a gurdwara in Jakarta
Teachers from Christian and Muslim schools visit a gurdwara in Jakarta

A group of religion teachers from Christian and Muslim schools visited a gurdwara in Jakarta, Indonesia, yesterday, to understand better the Sikh faith.

The visit to the Gurdwara Guru Nanak in Jakarta south was led by an executive from a non-government organsiation called Indonesian Conference for Religion and Peace (ICRP).

The visitors sat through a kirtan programme by a group of local Sikh children, eat the Guru ka Langgar that was prepared for an earlier programme and then sat down for a question and answer session on Sikhi.

The same group of about 30 had earlier visited a church and a Chinese temple.

They were there for fact finding plus learning other faiths and beliefs for the sake of harmony and confidence building in line of NGO of interfaith, said the gurdwara committee president Balwant Singh.

“They were very impressed and appreciated our simple Gurdwara protocol.

“Everyone covered their heads and dressed modestly as requested and enjoyed their freedom to move around in the Darbar, taking photos they wished to shoot,” he tells Asia Samachar. “They enjoyed the Guru ka Langgar to their satisfaction.”

The young Sikh children performed Kirtan with the guests given the translation of the meanings in Indonesian.

“Then the Granthi read a hukumnama from the Sri Guru Granth Sahib, which was also translated into Bahasa Indonesia. He explained the meaning of ‘ekas baap’ or all children of One God and other concepts,” he said.

The group extended a donation of about US$150 to the gurdwara.

The gurdwara also runs a Gurmat school, in collaboration with the Kuala Lumpur-based Sri Guru Granth Sahib Ji Academy, which has about 50 students.

Religion teachers from Christian and Muslim schools visited Guru Nanak Gurdwara in Jakarta south.
Religion teachers from Christian and Muslim schools visited Guru Nanak Gurdwara in Jakarta south.

[ASIA SAMACHAR is an online newspaper for Sikhs in Southeast Asia and surrounding countries. We have a Facebook page, do give it a LIKE. Follow us on Twitter. Visit our website: www.asiasamachar.com]

 

RELATED STORIES:

SGGS Academy to open centres in US, Canada (Asia Samachar, 21 June 2014)

Jakarta celebrates Guru Nanak gurpurab  (Asia Samachar, 19 Nov 2014)

Lazada Indonesia co-founder joins cab provider Ola (Asia Samachar, 17 July 2014)

Sikhs prepare famous Indonesian dish at Malacca (Asia Samachar, 24 May 2014)

3 COMMENTS

  1. Wahe guru ji ka khalsa ….waheguru ji fateh…..gurudwara prabandhak kameeti…….waheguru ji assi bachiyaan nu punjabi ate kirtan di shikhlai kra sakde han……..te waheguru ji dass nu seva shmbhaal da mouka dita jave

  2. BALWANT SINGH’S PRESENTATION WAS CAPTURED BY THE ICRP WEBSITE:

    http://icrp-online.org/2015/08/25/mengenal-konsep-toleransi-agama-sikh/

    MENGENAI KONSEP TOLERANSI AGAMA SIKH

    Jakarta, ICRP – Tidak banyak masyarakat yang tahu agama Sikh dan Baha’i. Meskipun keduanya sudah ratusan tahun berada di Indonesia. Ditengarai, agama Baha’i masuk ke Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni pada tahun 1878. Begitu pun dengan agama Sikh. Agama Sikh berkembang pada abad ke-16 dan 17 di India, dan saat ini telah menjadi salah satu agama terbesar di dunia.

    Jum’at (21/8/15), ICRP melaksanakan Studi Agama dan Perdamaian yang ke-5. Pada pertemuan ini membahas tema “Agama dan Perdamaian: Perspektif Sikh dan Baha’i”, dengan pembicara Balwant Singh atau akrab disapa Ben Rahal (Sikh), dan Destya Nawriz (Baha’i). Ben Rahal adalah salah satu pemuka agama Sikh yang tinggal di Jakarta. Dia beserta pemeluk agama Sikh lainnya telah membangun sebuah Gurudwara (tempat ibadah umat Sikh) di daerah Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan. Di Gurudwara tersebut juga dibangun sebuah Yayasan Sosial Guru Nanak yang sering digunakan untuk pengobatan gratis dan bakti sosial lainnya.

    Sikh dan Ketulusan Pengabdian

    Sikh merupakan salah satu lima agama besar di dunia. Agama ini berkembang di India pada abad ke-16 dan 17. Sejalan dengan perkembangannya, agama Sikh sedikit dipengaruhi perubahan dalam agama Hindu di India dan Islam di Pakistan pada waktu itu. Saat ini, pengikut agama Sikh sudah mencapai 23 juta penduduk yang menyebar ke berbagai belahan dunia. Di Asia Tenggara, penganut Sikh dapat ditemukan di Singapura, Malaysia, dan Indonesia.

    Kata Sikh sendiri berasal dari kata sisya dalam bahasa sanskrit yang berarti “murid” atau “pelajar”, atau siksa yang berarti “arahan”. Kepercayaan utama yang diajarkan dalam Sikh adalah percaya kepada satu Tuhan yang pantheistik yang tidak mengandungi antropomofisme (pemberian sifat manusia kepada dewa-dewa).

    Dasar agama Sikhis adalah ajaran sepuluh guru Sikh yang tertulis dalam kitab suci yang bernama Guru Granth Sahib. Selain mengikuti ajaran sepuluh guru, umat Sikh juga mengikuti ajaran dari cendekiawan Muslim dan Hindu yang ajarannya mengandung kebaikan. Di sini terlihat keluhuran ajaran Sikh, yang mengakui nilai luhur bisa datang dari siapa saja dan agama apapun.

    Agama Sikh bermula di Punjab, India, dan digagas oleh Guru Nanak (1469-1539). Penganut Sikh hanya percaya kepada satu tuhan yang dipanggil Waheguru. Setelah Guru Nanak meninggal, dia digantikan oleh penerusnya sampai sepuluh guru. Selepas kematian Gobind Singh, kepemimpinan guru ini tidak dilanjutkan namun digantikan dengan himpunan skrip suci yang dikenal Adi Granth, dan kemudian diberi nama Guru Granth Sahib. Tidak hanya meninggalkan skrip suci, Gobind Singh juga mengajarkan sebuah persatuan “Persaudaraan Khalsa Sikh” dengan memulai pemakaian seragam untuk lelaki Sikh yang taat kepada agamanya yang terkenal istilah “Lima K”.

    Lima K ini pun hingga sekarang menjadi style khas pemeluk agama Sikh. Yang dimaksud dengan Lima K ini adalah:

    1. kesh (rambut yang tidak dipotong)
    2. kanga (sikat)
    3. kara (gelang ditangan kanan)
    4. kirpan (pisau kecil yang tidaklah begitu tajam)
    5. kachha (seluar dalam pendek)

    Jika di Islam mempunyai Makkah sebagai tempat Suci, tempat suci agama Sikh adalah Gurdwara Emas di Amritsar. Gurudwara adalah tempat sembahyang agama Sikh. Di Jakarta ada tiga Gurdwara yang terletak di Ciputat, Pasar Baru, dan Tanjung Priok.

    Sikh Memaknai Toleransi

    Menurut kepercayaan Sikh toleransi adalah “Accepting and allowing the faithful from other religions to follow their spiritual beliefs and practices without oppression or discrimination.” Yang berarti menerima dan memungkinkan umat beriman dari agama lain untuk mengikuti keyakinan mereka dan praktik spiritual mereka tanpa penindasan atau diskriminasi.
    Toleransi dalam agama sikh mengacu pada perkataan sang guru, sebagai berikut:

    “ Recognise the divine vision of the Oneness of the World of plurality; live for God in yourself and others; judge yourself not others; see unity in diversity; practice patience and forgiveness; accept all as your friends; do not slander or insult others; engage in selfless service; respect other religions and their scriptures; give up fanaticism and finally, live and let live.”

    Mengakui visi ilahi Keesaan Dunia pluralitas; hidup bagi Allah dalam diri sendiri dan orang lain; menilai diri sendiri bukan orang lain; melihat kesatuan dalam keragaman; berlatih kesabaran dan pengampunan; menerima semua sebagai teman; tidak fitnah atau penghinaan orang lain; terlibat dalam pelayanan tanpa pamrih; menghormati agama lain dan kitab suci mereka; menyerah fanatisme dan akhirnya, hidup dan biarkan hidup.

    Sikh adalah agama yang inklusif dan menekankan kesetaraan terhadap semua manusia, termasuk kesetaraan terhadap perempuan. Agama Sikh percaya pada kesejahteraan seluruh umat manusia. Dalam akhir sebuah doa yang rutin digelar, jemaat berdoa untuk kesejahteraan semua umat manusia. Nilai seperti ini sudah mendarah daging di semua Sikh. Dan doa seperti itu sudah berulang kali di lakukan ketika berdoa sehari-hari dan dalam setiap kegiatan agama sepanjang tahun.

    VandChakna and Seva dan Konsep Pelayanan Sosial

    VandChakna and Seva merupakan konsep pelayanan yang terdapat dalam Sikh. Dalam konsep Vand Chakna umat Sikh diminta untuk berbagi kekayaan mereka dalam masyarakat dan di luar dengan berlatih amal (Daan). Sikhisme memerintahkan untuk “Berbagi dan mengkonsumsi bersama-sama

    Sementara Seva adalah tugas dari setiap Sikh untuk terlibat menjadi relawan setiap kali ada kemungkinan. Sebuah Sikh bisa menjadi sukarelawan di Gurdwara Sahib; pusat komunitas; pusat hidup senior; pusat perawatan, bencana besar dunia, dll. Seva penting untuk Sikh karena membantu membangun komunitas yang lebih baik dan juga menjaga Sikh sederhana dengan menekan ego.

    Seva bisa bermakna melayani, menghadiri atau mengabdi, namun seva juga berarti beribadah (to worship), menyayangi atau menghormati, dan menghargai. Dalam tradisi Hinduisme, Seva identik dengan kasta tertinggi Brahmin, namun Sikhisme yang egaliter dan menolak sistem kasta di masyarakat, dan mengajarkan Seva dapat dilakukan oleh setiap orang.

    Dalam faham ketuhanan Sikhisme, Tuhan itu berada dalam setiap ciptaanNya. Sehingga ketika seorang Sikh melayani sesamanya, lingkungan maupun makhluk lainnya, maka ia telah melayani Tuhannya.
    Seva merupakan hal yang penting dalam kehidupan spiritual sikh. Seva yang paling tinggi adalah mengabdi atau melayani Guru. Guru Nanak berkata “Saya memohon untuk mengabdi pada orang yang mengabdi kepadaMu” [Mukhlisin]

LEAVE A REPLY